Episodes

  • Dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Muhammad Ridha dijelaskan, Buhaira dikenal sebagai seorang pendeta yang menguasai ilmu falak dan perbintangan.

    Dia membangun biaranya di pinggir jalan utama menuju ke Syam dan selalu tinggal di dalamnya. Dia tinggal di sana khususnya pada musim lewat para pelancong dan kafilah dagang. Kemudian dia menyerukan kepada mereka untuk tidak menyembah berhala dan hanya mengesakan Allah.

    Buhaira juga memiliki seorang murid setia bernama Mudzhib. Di kemudian hari, Mudzhib ini pun menjadi guru dari Salman al-Farisi sebelum dia masuk Islam.

    Ketika bertemu dengan Rasulullah di Bushra, Buhaira melihat fenomena alam yang tak biasa yang mengikuti Muhammad. Awan bergerak memayungi ke manapun langkah Muhammad berarah. Lalu Buhaira menghampiri Rasulullah dan memeriksa sekujur tubuhnya.

    Buhaira kemudian menemukan tanda kenabian itu di pundak beliau. Yakni di antara kedua penduknya, dan lalu Buhaira mencium antara kedua pundaknya. Buhaira pun berpesan pada, paman Nabi—Abu Thalib yang kala itu membawa Rasulullah untuk berdagang—untuk menjaga keponakannya itu. Sebab, keponakan Abu Thalib itu dikatakan bukanlah orang biasa.

  • Sudah menjadi tradisi bangsawan Arab pada waktu itu adalah menyerahkan bayi-bayi mereka kepada perempuan dari pedalaman untuk disusui. Tujuannya agar bayi-bayi itu terhindar dari penyakit yang biasa menyebar di perkotaan dan agar fisiknya bisa tumbuh sehat di tengah-tengah hawa pedalaman yang segar. Juga agar bayi-bayi mereka terlatih berbahasa Arab yang fasih sejak kecil. Abdul Muththalib pun mencari perempuan pedalaman yang mau menyusui cucunya.

    Perempuan-perempuan dari pedalaman itu tentu mengharapkan upah yang memadai untuk jasa menyusui selama dua tahun. Oleh sebab itu biasanya mereka menghindari bayi dengan status yatim seperti Muhammad. Salah satu dari perempuan-perrempuan yang menawarkan jasanya itu adalah Halimah binti Abu Du’aib dari Bani Saad ibn Bakar. Karena dari Bani Sa’ad dia lebih dikenal dengan sebutan Halimah as-Sa’diyah. Sebenarnya Halimah tidak berminat membawa bayi Muhammad, tetapi karena dia tidak mendapat bayi yang lain, maka dia tetap membawa bayi tersebut.

    Halimah berkata kepada suaminya Harits ibn Abdul Uzza yang biasa dipanggil Abu Kabsyah: “Tidak senang  aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga” “Baiklah” kata suaminya:”Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.” (Hayatu Muhammad hal. 50).

    Ternyata memang bayi Muhammad membawa berkah kepada keluarga Halimah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunya pun bertambah. Selama dua tahun Muhammad tinggal di Thaif, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh puterinya yang bernama Syaima. Sesudah dua tahun Muhammad disapih dan dibawa kembali kepada ibunya di Makkah.

    Setelah itu Muhammad dibawa kembali oleh Halimah ke pedalaman atas permintaan Aminah menurut satu keterangan dan atas permintaan Halimah menurut keterangan yang lain untuk menghindari wabah penyakit yang dikhawatirkan berkembang di Makkah waktu itu. Muhammad kembali tinggal di pedalaman menikmati udara pegunungan yang jernih dan segar.

    Tatkala Muhammad sudah berumur empat tahun terjadilah peristiwa luar biasa yang membuat Halimah khawatir akan keselamatan Muhammad. Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas, suatu hari Muhammad kecil didatangi oleh Malaikat Jibril. Saat itu dia sedang asyik bermain dengan teman-teman sebayanya. Malaikat Jibril membawanya, merebahkannya, lalu membelah dadanya.

    Segumpal hati yang masih berlumuran daarah dikeluarkannya sertaya berkata: “Ini adalah bagian setan yang ada padanya.” Jibril lalu mencuci hati itu dengan air zamzam yang ditaruh dalam sebuah bejana emas, kemudian mengembalikannya ketempat semula, dikatupkan lagi satu dengan lainnnya. Setelah itu, Muhammad dikembalikan ketempat teman-temannya.

    Mereka lari behamburan menemui ibu asuhnya Halimah. “Muhammad telah dibunuh” ujar mereka. Semuanya bergegas menghampiri Muhammad yang pucat pasi ketakutan. Anas menuturkan aku pernah melihat bekas belahan itu di dada beliau. ( ar-Rahiq al-Makhtum hal. 68 )

    Peristiwa tersebut diisyaratkan dalam Surat Asy-Syarhu atau Alam Nasyrah. Allah   SWT berfirman:

    أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ

    “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (Q.S.Asy-Syarhu 94: 1)

    Setelah peristiwa tersebut, Aminah benar-benar khawatir dengan keselamatan Muhammad yang diasuhnya, lalu dia bergegas memulangkan Muhammad kepada ibunya di Makkah. Muhammad kecil kembali kepangkuan ibundanya.

  • Missing episodes?

    Click here to refresh the feed.

  • Sejarah menyebut Nabi Muhammad lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah dalam penanggalan hijriyah atau 20 April 571 dalam penanggalan masehi. Ayah Nabi Muhammad ialah Abdullah bin Abdul Mutholib, sedangkan ibunya bernama Siti Aminah binti Wahab.

    Namun, Muhammad kecil ketika itu lahir sebagai yatim yang dalam satu pendapat menyatakan ayahnya meninggal saat nabi berusia tujuh bulan dalam kandungan. Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya Abdul Muthalib yang merupakan pemuka Arab dari bangsawan Quraisy.

    Kelahirannya membuat gembira hati Abdul Muthalib. Saking gembiranya, menurut beberapa cerita, Abdul Muthalib membawa bayi Nabi Muhammad itu thawaf mengelilingi Ka'bah dan memberinya nama Muhammad. Nama Muhammad diberikan dengan harapan agar kelak ia menjadi pribadi yang terpuji seusai arti namanya.

    Kegembiraan Abdul Muthalib 40 tahun kemudian bahkan juga menjadi berita gembira bagi umat manusia dengan diangkatnya Muhammad sebagai seorang Rasul. Ia membawa ajaran yang benar dari Allah SWT.

    Allah berfirman dalam Alquran:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَكُمُ ٱلرَّسُولُ بِٱلْحَقِّ مِن رَّبِّكُمْ فَـَٔامِنُوا۟ خَيْرًا لَّكُمْ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

    Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."(An-Nisa: 170)

    Kedatangan Nabi Muhammad bahkan telah dikabarkan sejak masa Nabi Isa. Nabi Isa menyebut akan datang seorang rasul bernama Ahmad atau Muhammad yang datang dengan membawa ajaran dan bukti kebesaran Allah yang nyata.

    Allah berfirman:

    وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ قَالُوا۟ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

    Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (Ash-Shaf: 6).

  • Kehidupan bangsa Arab sebelum datangnya Islam dikenal dengan istilah Jahiliyah. Masyarakat Jahiliyah ini identik dengan peradaban yang sangat buruk, pelacuran dimana-mana, pertumpahan darah, perbuatan keji yang tak dapat diterima akal sehat.

    Sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW , orang-orang Arab menganut agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi'ah dan penyembah berhala (paganisme). Seperti apa kondisi sosial dan peradaban bangsa Arab masa zaman Jahiliyah? Berikut ulasan singkat yang dirangkum dari Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury (bersumber dari Kitab Ar-Rahiqul Makhtum).

    Kondisi sosial bangsa Arab Jahiliyah memiliki klasifikasi berbeda-beda dimana kaum bangsawan mendapat kedudukan terpandang. Mereka memiliki otoritas dan pendapat yang mesti didengar.

    Adapun gaya hidup masyarakat Arab Jahiliyah terbiasa bercampur baur antara kaum laki-laki dan perempuan. Boleh dikatakan kehidupan mereka jauh dari akal sehat. Selain pelacuran, gila-gilaan, pertumpahan darah sudah biasa di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah.